
Tanggal 7-9 Maret 2009 lalu, aku mengikuti daurah yang diadakan oleh Corps Dakwah Sekolah (CDS) Kabupaten Bantul dan bekerjasama dengan Yayasan Bina Remaja Bantul (YBRB). Ini adalah daurah awal untuk para aktivis dakwah sekolah. Lokasinya di Krebet, Pajangan, Bantul. Sebuah tempat yang untuk sampai ke sana harus melewati jalan berkelok-kelok dan terjal.
Sore hari Sabtu, 7 Maret, rombongan sampai di lokasi. Total peserta dan panitia ada sekitar 30 orang. Sedikit memang jika mengingat daurah ini tingkat Kabupaten. Tapi insya Allah, itu tidak menyurutkan semangat kami semua.
Setelah beres-beres diri dan persiapan awal, maka ba’da Isya’ materi dimulai. Sampai pada pukul 11 malam, barulah acara formal hari itu berakhir. Aku menyebutnya acara formal, sebab meskipun acara sudah diakhiri, kami masih memenuhinya dengan aktivitas lain. Di kamar akhwat, aku menyeksikan mereka membaca Al Qur’an, menghafalkan ayat Al Qur’an, atau sekedar berdiskusi topik-topik terkini.
Subhanallah!
Seolah seharian belum cukup untuk menunaikan panggilan hati berdakwah.
Tepat pukul 00.00, barulah kami mulai memejamkan mata. Dengan masih mendekap Al Qur’an di dadaku (karena memang aku pun sibuk menghafalkan beberapa ayat malam itu), aku memejamkan mata. Entah kenapa, menitislah air mataku. Terkenang semua kebersamaan ukhuwah yang sempat terjalin. Dan kenangan itu yang kemudian mengantarkanku sampai ke tidurku yang pulas.
Pukul 3 pagi, aku bangun. Mengambil air wudhu, dan membangunkan teman-teman akhwat yang lain. Kami siap menyambut hari baru dengan menunaikan sholat malam berjamaah. Sang imam, membacakan surah Ar Rahmaan pada entah rakaat ke berapa. Kembali menetes air mataku. Teringat semua karunia Allah yang belum dan bahkan tidak sempat aku syukuri. Justru tidak jarang, kenikmatan itu aku gunakan untuk hal-hal yang maksiat. Sampai rakaat terakhir sholat kami, air mataku masih terus menetes. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Pagi usai sholat Subuh, hujan membasahi bumi. Padahal agenda hari itu outbond. Menatap hujan yang turun, seakan aku melihat betapa banyak Rahman dan Rahiim Allah terpancar. Sebanyak tetesan air hujan yang turun, bahkan lebih banyak lagi….
Pukul 9 pagi, akhirnya hujan benar-benar reda. Meski terlambat satu jam dari jadwal, akhirnya agenda outbond dapat terlaksana.
Subhanallah!
Tak terkatakan lagi bagaimana perasaanku saat outbond. Kami berjalan melalui jalan terjal yang naik-turun. Sampai di sebuah lapangan berlumpur, kami berhenti. Ada games ringan yang menambah keceriaan kami pagi itu. Meski lumpur membasahi baju kami, meski sepatu dan sandal kami kotor, kami tidak peduli. Inilah kebersamaan yang indah.
Usai dari lapangan berlumpur, kami mulai berjalan masuk hutan. Menyeberangi sungai berbatu, melewati jalan sempit yang di sisinya jurang, melewati air terjun, dan batuan terjal yang terus menghadang perjalanan kami.
Di tengah hutan itu, akhirnya Allah menurunkan lagi rahmat-Nya. Hujan deras mengguyur kami. Padahal medan yang kami lalui adalah sungai dna bebatuan, bahkan jurang yang menganga.
Berat. Sungguh berat. Air mataku kembali menitik. Bukan oleh ketakutan atau lelah di badan. Tapi karena teringat dunia dakwah yang medannya pasti lebih berat daripada ini. Jalan terjal berdebu dan basah, jurang kemaksiatan, lembah kenistaan, bebatuan, sungai, gunung, semua itulah medan dakwah yang pasti akan kami lalui.
Sambil terus berjalan, lisanku menyenandungkan nasyid Jejak yang dibawakan oleh Izzatul Islam. “Menapaki langkah-langkah berduri, menyusuri rawa lembah dan hutan, berjalan di antara tepi jurang, semua dilalui demi perjuangan….”
Ujian itu datang lagi. Allah menginginkan kesolidan dan keteguhan jamaah kami. Di tengah hutan dan guyuran hujan tersebut, seorang akhwat tersengat kalajengking. Sontak perjalanan kami terhenti. Semua menunjukkan perannya. Ada yang mengolesi minyak kayu putih, ada yang mencari kalajengking tersebut. Dan seorang ikhwan langsung menapaki jalan mendaki untuk mencari bantuan. Akhirnya dia menemukan korek api yang dipinjamnya dari penduduk yang ditemuinya di atas.
Dengan batu dan korek api, kami memanasi tubuh si akhwat. Terutama pada luka sengatannya. Untuk mengumpulkan darah agar tidak menyebar ke seluruh bagian tubuh yang lain.Sehingga kami mudah menghisap racunnya. Aku pun tidak ingin ketinggalan berkiprah. Aku tahu kondisi tubuhku sebenarnya sudah sangat lelah dan hampir drop. Tapi ketika ikhwan tersebut menyodori aku korek api, langsung aku ambil. Akhwat yang lain memegangi batu. Sedangkan aku yang menghidupkan korek api tersebut. Tanganku sempat ikut terbakar karena menahan agar korek api itu lama menyala. Sakit. Perih tentu saja. Tapi aku tidak peduli. Luka ini akan menjadi saksi perjuanganku di akhirat kelak. Itu janji Allah. Dan aku yakin itu.
Kami memang tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya akhwat tadi ‘dipaksakan’ berjalan menerobos hutan mencari bantuan. Setelah agak lama berjalan, sampailah kami ke jalan yang di sekitarnya ada rumah penduduk. Legalah perasaan kami. Tapi ternyata tubuhku telah sedemikian lelah. Dan memang selama ini aku tahu tensi darahku rendah. Dipicu oleh hujan yang terus mengguyur kepalaku secara langsung, ditambah pula kakiku yang terus kedinginan menyeberangi sungai, akhirnya aku terjatuh pingsan.
Begitu siuman, mataku langsung menemukan semua saudaraku para akhwat di sekelilingku. Melihat ke sekitar, ternyata kami di dalam sebuah rumah penduduk. Sekali lagi aku harus meneteskan air mata. Dingin menggerogoti tubuhku. Sungguh, tidak terasa lagi kehangatan. Bahkan ketika air mendidih yang telah dimasukkan ke dalam botol kaca itu diletakkan di atas perutku, sama sekali aku tidak merasakan panas. Hangat pun tidak. Mataku berulangkali terpejam. Aku seperti menangisi hidupku. Aku pasrah, seandainya harus menemui Allah saat itu juga. Aku pegang erat tangan saudaraku. Aku memandang mereka satu persatu. Kemudian mata ini kembali terpejam. Seorang akhwat berusaha keras membangunkanku, menjagaku agar tidak tertidur (lagi).
Sungguh, barulah aku tahu ketulusan hati para saudaraku. Inilah yang membuatku menangis di tengah kebekuan tubuhku. Allah telah mengirimiku karunia-Nya yang paling berharga. Inilah keindahan Islam yang terpancarkan oleh ikatan ukhuwah di antara para pejuang dakwah. Dan aku sadar, peristiwa seperti ini bukan hanya sekali akan aku lalui. Akan banyak lagi ujian dalam dakwah. Akan banyak lagi kenikmatan dalam dakwah. Dan sungguh, aku merasakan medan dakwah itu pahit, tapi indah…. (yan)
DIarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Ditandai: Dakwah | Leave a Comment »
Afwan, kalo judulnya terkesan kayak kalimat kampanye. Jika ada di antara antum yang barangkali ngerasa alergi dan panas kupingnya karena judul di atas, maka antum gak perlu lanjutin baca tulisan ini. Tutup blog ini dan silakan browsing apa aja yang antum suka. OK???
