murtad

Yogyakarta, bulan Juli 2006.

Hujan rintik-rintik turun membasahi bumi. Gumpalan awan hitam menghiasi langit semenjak subuh tadi. Suasana pagi tetap saja sama. Aku pun masih sama, berdiri di depan rumah sambil menghirup udara segar.

Sekilas suasana fajar memang tidak berubah. Namun tetap saja, ada yang terasa berbeda jika dibandingkan dengan suasana pagi dua bulan yang lalu. Reruntuhan bangunan dan rumah seolah menjadi pemandangan yang biasa di sini. Ya, gempa bumi dua bulan silam telah membuat begitu banyak perbedaan. Hati ini perih. Pedih. Ada sayatan. Ratapan. Tangisan.

Aku tengadah ke atas. Rintik hujan jatuh di pipiku. Dua bulan lalu aku masih sibuk belajar mempersiapkan tes akhir semester. Tiba-tiba gempa hebat mengguncang. Aku tak mampu berlari.Hanya sayup-sayup suara teriakan yang kudengar. Setelah itu aku pun tak sadarkan diri.

Saat aku kembali bisa membuka mata, aku tidak melihat ibu dan bapakku. Kupandang sekeliling. Mbakyu menangis di depan dua sosok yang terbaring. Siapakah mereka, batinku.

Tertatih-tatih aku pun mendekatinya. Tak percaya rasanya menyaksikan dua tubuh terbujur kaku dan kedinginan. Itu….

“Bapak?! Ibu?!” jeritku sembari mengguncang kedua tubuh yang telah membeku itu.

Mbakyu telah berhenti menangis. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” katanya.

Serasa petir menyambarku. Hatiku berontak. Aku marah.

“Persetan dengan ‘innalillahi’!! Ini ndak adiiiiillll!!!! Kenapa Allah memanggil bapak dan ibu?! Kenapa ndak orang lain saja?!! Kenapaaaa????!!!!”

Mbakyu mengelus pundakku, lantas memelukku. Aku meronta. Berlari kebingungan mencari bantuan. Berteriak. Tapi sepertinya tak ada yang mendengar. Semuanya sibuk. Semuanya menangis. Hingga aku pun putus asa dan cuma bisa berdiri menatap langit.

“Ya Allah, kenapa Kau turunkan bencana sebegini?! Apa salah kami? Kami selalu ke masjid! Kami selalu menyembah-Mu! Tapi kenapa Engkau masih juga membuat kami menderita?! Kenapaaaaa???!!!” teriakku sembari memandang ke langit.

Mbakyu menangis sesenggukan di dekatku.

“Apa mau-Mu Tuhaaan???!!!”

Aku diam. Lelah rasanya memaki-maki Tuhan. Seakan Tuhan tak mau mendengar rintihanku. Tuhan tak mendengar teriakanku.

Kemudian kupandangi diriku sendiri. “Persetan dengan jilbab! Kalau akhirnya tetap aja sama dengan orang yang mengumbar aurat!!” Kutarik lepas jibab penutup kepalaku. Kucampakkan dan langsung kuinjak-injak.

“Ini kan mau-Mu, Tuhan?! Kau ndak mau memberi kebaikan padaku! Kau sudah ndak mau peduli padaku! Oke! Aku pun ndak akan menyembah-Mu lagi! Persetan dengan agama!”

Lantas aku bersimpuh di dekat mayat ibu bapakku……

Sekali lagi aku tengadah. Hari sudah semakin siang. Hujan pun sudah mulai reda. Dan bayangan kejadian itu masih hangat di otakku. Kutoleh ke samping. Mbakyu bersama para tetangga sedang bahu-membahu di tenda. Hanya aku yang tetap di sini. Tanpa melakukan apa-apa.

Kasihan Mbakyu…

Aku tersenyum sinis. “Apanya yang Tuhan Maha Penyayang?”

Kulangkahkan kakiku ke arah jalan besar.

“Zah! Izzah!” Aku menoleh. Mbakyu memanggilku.

“Ya, Mbak?”

“Kau mau ke mana? Ini kan masih pagi? Ndak baik keluyuran. Kamu juga tadi belum Subuh kan?” Mbakyu masih menggenggam sendok sayur.

“Subuh? Buat apa?”

“Astaghfirullahal ‘adzim. Kamu tu ngomong apa to Nduk?”

“Lha Mbak juga ngomong apa? Adim adim segala?”

Mbakyu memegang keningku. “Kamu sakit, Nduk?”

Aku tepiskan tangannya dengan kasar. “Lepasin! Izzah ndak sakit! Izzah cuma ndak mau sholat! Izzah benci sama Allah!”

Mbakyu terpaku. Mundur beberapa langkah. “Astaghfirullah. Hati-hati, Nduk Kamu bisa dilaknat sama Allah.”

“Laknat?! Laknat kata Mbak? Ngomong aja sama Allah! Laknat aja! Izzah ndak takut!”

Plakk!!!

Mbakyu menamparku. Membekas keras dalam diriku. Bukan di pipi, tapi di hati. Setetes air mata jatuh. Kupegangi pipiku dengan kedua tangan. Langsung aku berlari sekencang-kencangnya. Mengikuti ke mana saja kakiku melangkah. Di depanku, di alun-alun utara, puluhan tenda seolah ikut menertawakanku.Di pelataran alun-alun ini dulu aku selalu bermain dengan teman-temanku. Menikmati gudeg wijilan. Ataupun sekadar berfoto di depan keraton. Atau melihat-lihat di museum Sonobudoyo. Ah, semua itu hanyalah kenangan saja. Tenda-tenda itu menutupinya. Di mana-mana tenda dan posko pengungsian. Aku muak!!!

Aku melangkah lagi. Melewati banyaknya orang yang mencari bantuan. Melalui anak-anak kecil yang kelaparan.

“Apa Kau puas? Gara-gara Kau kita begini!! Gara-gara Kau!!!”

Allahu akbar, Allahu akbar!

Allahu akbar, Allahu akbar!

Suara itu…! “Ih, apaan tuh Maha Besar?!”

Masjid Gede itu dulu tempat favoritku. Bersama teman-teman jalan-jalan sambil menikmati es dawet. Lalu ketika adzan berkumandang seperti sekarang, biasanya kami langsung menunaikan kewajiban sholat. Tapi sekarang semua itu udah berlalu. Kututup kedua telingaku. Aku semakin muak.

Kulihat orang-orang memasuki masjid. Aku tertawa ngakak menyaksikan seorang anak kecil berkopiah dan memakai baju koko lusuh. “Hei anak kecil! Mau ke mana?!”

“Kakak nanya sama aku? Mau ke masjid lah Kak.”

“mau ngapain?”

“Kakak aneh! Ya mau sholat lah!”

“Memang kenapa harus sholat? Nyembah siapa?”

“Nyembah Allah. Memangnya Kakak ndak kenal sama Allah?”

“Kamu sendiri, emang pernah ngeliat Allah?”

“Hmmm….”

“Yeee…belum pernah ngeliat aja kok mau-maunya nyembah!”

Anak itu memicingkan matanya. Heran. “Dasar orang gila.”

“Biarin! Emang apa untungnya menyembah Allah? Kamu hati-hati aja ya anak kecil, nanti bisa-bisa orang tuamu bisamati gara-gara kamu keseringan nyembah Allah!” teriakku. Dan tentu saja orang-orang memandangku dengan pandangan yang semakin aneh.

“Kamu… Izzah kan?”

Aku menoleh. “Fikry? Kamu kok di sini ngapain?”

“Aku mau sholat. Kamu sendiri emang ndak sholat?”

“Ndak.”

“Kenapa?”

“Lagi ndak sholat aja.”

“Oooooh. Tapi kamu mau nungguin aku selesai sholat kan? Aku pingin sedikit ngobrol sama kamu.”

Apa? Ngobrol dengan Fikry? Tentu aja mauuuuuu banget! “Oke deh, aku tunggu.”

“Siiiip!!”

Tak berapa lama, sholat usai. Satu per satu jamaah keluar dari masjid. Anak kecil yang tadi kembali melihatku. “Ngapain liat-liat?”

“Orang gilaaa!!!”

“Heh! Awas ya!!!” Aku melepas sandalku dan hampir aku lempar ke arahnya. Tapi….

“Izzah, jalan-jalan yuk.”

“Fikry? Sejak kapan kau di situ?” Sambil aku jatuhkan sandalku. Nyengir.

“Jalan-jalan? Ke mana?” tanyaku lagi.

“Ya jalan aja. Kita ngobrol.”

“Oke.” Kataku senang. Kami langsung melangkah. Fikry jalan di sampingku. Dag-dig-dug jantungku nggak karuan. Kami terus berjalan ke utara. Ke arah Malioboro. Suasananya sangat lengang. Ada sih orang berlalu-lalang. Tapi kegiatannya sama. Mencari bantuan logistik. Kegiatan jual beli yang biasanya aku lihat, sekarng tidak lagi nampak.

“O iya. Dari tadi aku kok ngerasain ada yang beda ya? Kamu ndak pake jilbab, Zah?”

“Ndak.”

“Kenapa? Padahal dulu kan kamu ndak pernah lepas dari jilbabmu? Kamu dulu kan–”

“Tau apa kamu soal aku?! Aku mau pake jilbab atau ndak kan urusanku! Ngapain kamu ikut campur?!”

Fikry melongo. “Aku kan cuma–”

“Lagian aku pake jilbab juga ndak akan bisa ngidupin ibu dan bapakku…”

“Apa? Jadi ayah ibumu udah meninggal? Kalau gitu aku minta maaf, aku ndak tau.”

“Karena itu jangan sok tau! Allah aja yang katanya Maha Tahu ternyata ndak mau tahu perasaanku! Apalagi kamu!”

Fikry menatapku. Itu membuatku tertunduk. “Aku tahu perasanmu, Zah. Aku juga pernah ngerasain kehilangan. Tapi yakinlah, itu semua yang terbaik dari Allah.”

“Terbaik?! Terbaik katamu?! Persetan! Aku ndak mau denger!”

“Justru kamu harus denger! Kamu tampak sangat marah sama Allah! Tindakanmu itu salah, Zah!”

“Persetan!!”

“Oke. Sekarang kamu bisa marah sama Allah. Memangnya kamu pikir Allah ndak bisa marah sama kamu? Cobalah un-”

Sebelum Fikry menyelesaikan omongannya, aku langsung berlari. Sepanjang jalan aku terus memaki. Menghujat. Menangis. “Mereka ndak ngerti perasaanku! Ndak ada yang mau ngertiiii!!!!”

Sesampai di rumah, kulihat Mbakyu sedang duduk di halaman. Saat melihat aku datang, Mbakyu langsung mendekat. “Nduk, Mbak mau….”

Tanpa mempedulikan kata-kata Mbakyu, aku terus menerobos masuk rumahku yang udah setengah roboh akibat gempa. Tepat di depan kamar Bapak dan Ibu aku berhenti. Duduk. Tak bicara apa-apa. Kata-kata Fikry terngiang lagi.

Seseorang mengelus pundakku. “Nduk, kamu ndak apa-apa?”

“Mbakyu?”

“Mbak mau minta maaf soal tadi. Mbak sudah nampar kamu. Kamu mau kan maafin Mbak?”

“Kenapa Bapak dan Ibu meninggal, Mbak?”

“Sudah takdirnya, Nduk. Allah menggariskan begitu.”

“Kenapa Allah ndak adil, Mbak?”

Mbakyu diam. Dia hanya menerawang, sambil sesekali tangannya mengusap rambutku.

“Mbak, bisa tolong tinggalkan aku di sini sendiri?”

“Tapi….”

“Tolong, Mbak.”

Makyu melangkah pergi. Aku serasa seperti orang linglung. Pikiranku melayang tak tentu. Hingga akhirnya aku lelah dengan semua ini. Aku ingin lepas. Aku ingin bebas.

Beberapa lama otakku bergerilya. Tapi ragaku masih tetap di sini. Bahkan seperti terbius, aku telah berada di tengah-tengah kerumunan. Puluhan, bahkan ratusan orang berdiri di depan rumahku. Ada apa ini, pikirku.

Yang pertama kulihat adalah Mbakyu. Ia menangis. Kenapa?

Aku terus masuk. Tetanggaku semua di sini. Fikry juga ada. Mau apa dia?

Dan yang terakhir kulihat adalah sosok yang terbaring di pojok ruangan. Berbalut kain putih. Kapas di lubang hidung.Wajah yang tampak kesakitan. Apa maksudnya? Itu kan aku? Tapi…mana mungkin! Bukankah sekarang aku di sini? Berdiri terpaku di antara orang-orang ini?

Tapi….

Tiba-tiba aku ngerasa aneh. Tubuhku tidak bisa lagi digerakkan. Aku bahkan tak bisa melihat diriku lagi. Tubuhku seakan sirna. Kenapa ini??

Bersama lantunan kalimah syahadat, para pelayat mulai berdiri. Empat orang terlihat mengusung keranda jasadku. Aku terombang-ambing seiring langkah kaki mereka. “Ndak! Ndak mungkin! Aku kan masih hidup? Toloooong!! Keluarkan aku dari sini! Tolooong!!!”

Aku terus mencoba berteriak sekeras-kerasnya. Malang. Tak ada satupun yang mendengar. Aku digotong ke kuburan. Mereka menurunkan jasadku sembari tetap bersyahadat. Asy hadu allaa ilaaha illallah…!

Tak terasa air mataku meleleh. Benarkah hidupku sudah berakhir?

Semua memori hidupku seakan terlihat di depan mata. Dulu, aku dilahirkan dalam keadaan suci. Hanya bisa menangis. Dan semua menyayangiku. Mereka memelukku, menggendongku penuh kehangatan. Kedua orang tuaku juga memasukkan aku ke TPA agar belajar Al Qur’an.

Menginjak remaja, aku dibiasakan untuk mengenakan jilbab. Kata ibu, “Jilbab akan melindungimu dari semua fitnah. Jilbab akan menjagamu dari maksiat. Dan kau akan lebih cantik dengan selalu menutup auratmu.”

Lalu Fikry. Aku pernah jatuh cinta kepada seorang kaum Adam. Ia manis. Tutur katanya lembut. Dan ia juga tampan. Kemarin juga kami sempat jalan-jalan bareng. Haruskah semua keindahan itu berakhir sekarang?

Orang-orang itu mulai menurunkanku ke liang lahat. Membujur ke utara. Menghadap ke kiblat. Mereka pun lalu menaburkan tanah merah hingga seluruh tubuhku tidak terlihat lagi.

Sepi.

Sunyi.

Gelap.

Tiba-tiba ada dua sosok yang begitu menakutkan mendekatiku. Siapa mereka? Lalu aku ingat tentang cerita dua malaikat yang menjaga kubur. Merekakah itu? Munkar…dan Nakir….

Rasanya lemas seluruh tubuhku.

“Siapa Tuhan yang kamu sembah?” seorang dari mereka menanyaiku.

Allah! Ya Tuhanku Allah! Aku mencoba meneriakkan kata-kata itu. Tapi bibirku serasa terkunci.Sulit sekali mengatakannya. Kenapa ini? Apa yang terjadi?

“Siapa Nabimu?”

Muhammad! Ya, Muhammad. Aku mencoba lagi berteriak. Namun kali ini pun sulit sekali. Hanya deraian air mata yang mengucur ke pipiku. Padahal cuma berkata ‘Muhammad’ dan semua selesai. Tapi kenapa sulit sekali??

Seorang yang lain mengangkat tongkatnya. Hendak memukulku. Aku tutupi wajah dan kepalaku. Tapi tetap saja aku tak bisa menghindar. Tubuhku terguncang keras. Hancur. Air mata semakin banyak meleleh. Aku mampu merasakan tubuhku luluh lantak tak berdaya.

Sebentar kemudian kembali seperti semula.

Lalu hancur lagi.

Begitu seterusnya.

Sakit sekali.

“Katakan jawabanmu!”

“Aaaaargh!!! Tolooooong!!!”

Hanya itu yang bisa aku teriakkan.

“Nduk? Nduk? Kamu kenapa?” Tubuhku diguncang-guncang. Aku tersadar. Mbakyu?

Lalu kupandangi diriku sendiri. Aku masih hidup? Benarkah?

“Kamu kenapa, Nduk?”

Seketika itu aku menangis keras. Langsung aku peluk Mbakyu. “Maafin aku ya Allah…..” Lirih aku sebut kata itu.

~the end~

Tinggalkan Balasan