Media adalah jembatan antara kenyataan dengan diri kita. Media juga merupakan perantara informasi dari seseorang kepada orang lain. Ada bermacam-macam media, yakni media tulis dan media elektronika. Kedua media tersebut juga masih terbagi atas beberapa jenis. Misalnya pada media tulis, ada koran, majalah, buku, buletin, surat kabar, dan sebagainya. Sedangkan untuk media elektronika, ada media televisi, radio, dan yang sedang marak saat ini yaitu internet.
Jumlah media yang tidak terbatas itu memberi dampak yang tidak bisa dikatakan kecil. Informasi yang ditangkap oleh seseorang terkadang bisa berbeda dengan penangkapan informasi pada orang lain. Hal tersebut selain disebabkan oleh kerancuan makna pada media, juga bisa disebabkan perbedaan persepsi.
Dan inti dari semua itu ialah kata-kata. Semua media membutuhkan kata-kata dalam penyampaiannya. Dan kata-kata jugalah yang berperan sangat penting dalam rangka serah-terima informasi tersebut. Apabila ada suatu media yang ternyata salah dalam memberikan informasi, hal itu dapat berakibat fatal bagi manusia, bahkan peradaban.
Dan tentunya juga tidak dipungkiri, bahwa internet yang termasuk salah satu dari banyaknya media di dunia, saat ini telah membawa efek yang sangatlah dahsyat. Berbagai hal dipaparkan melalui internet. Adegan perang, adegan pendidikan, sampai adegan syur di atas ranjang. Setiap orang bisa mengaksesnya dengan mudah. Hanya tinggal satu pencetan, semua kejadian ditampilkan. Pengaruh dan dampaknya pun macam-macam. Ada yang positif, ada yang negatif, yang kadang tanpa dipikirkan dulu telah dijadikan pedoman baru dalam hidup seseorang.
“Media dapat membuat orang menangisi apa yang seharusnya mereka syukuri, dan merayakan apa yang seharusnya membuat mereka tidak bisa tidur dalam tiga hari karena ngerinya tragedi. Media dapat membuat kebusukan tampak bagus dalam sekejap, dan sebaliknya bisa membuat orang jujur dicaci maki dan diludahi. Seorang yang telah cukup matang berpikir pun bisa berubah karena tulisan yang dibuat dengan penuh kekuatan.”
Demikian yang ditulis Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya ‘Inspiring Words for Writers’. Ya, begitu besarnya pengaruh media sampai kita kadang tidak menghiraukan lagi apakah yang disampaikan itu benar atau keliru. Itu jugalah yang kadang membuat bingung banyak orang mengenai sesuatu. Kita tidak menyadari bahwa apa yang disampaikan itu ternyata keliru dan bermaksud mempropagandakan.
Atau tidak jarang pula, seseorang bisa berubah prinsip juga karena media. Hal ini bisa kita saksikan pada novel dan film Ayat Cinta yang sedang banyak diperbincangkan. Tema yang diangkat sebenarnya sangat sederhana. Dan itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi karena dikemas dalam bahasa yang apik, novel tersebut mampu membius jutaan orang dan mempengaruhinya. Baik cara dandan tokohnya, cara bicaranya, sampai ada yang memutuskan untuk memakai jilbab setelah membaca novel tersebut. Apalagi Fahri sekarang tampaknya menjadi idola yang sempurna di kalangan remaja.
Tapi bukan itu yang menarik dalam pembahasan ini. Melainkan lebih kepada dahsyatnya pengaruh kata-kata Habiburrahman El-Shirazy hingga mampu membuat tren tersebut. Terbukti, bahwa kata-kata memang mempunyai peran dominan terhadap perubahan seseorang.
Dalam tulisan yang lain, ada yang berpendapat bahwa dakwah melalui tulisan (baca: media) adalah lebih efektif. Tak ada cara lain. Dan di luar istilah dakwah yang notabene merupakan kata-kata milik orang muslim, dakwah para misionaris pun juga memanfaatkan media.
Sebagai contoh, booming Harry Potter membuat banyak anak terbelenggu pengaruh sihir. Beberapa waktu lalu juga, telenovela Carita De Angel membuat anak-anak kecil (muslim) lebih mengidolakan para suster daripada para khalifah Islam. Masya Allah!!
Itulah saat ini yang semestinya menjadi PR besar bagi umat muslim. Masih ingat kan, bagaimana kejinya perlakuan Amerika terhadap Irak yang dituduh menyimpan senjata pemusnah massal? Dan mereka memblokir semua akses media informasi, sampai-sampai rakyat Irak harus bersusah payah agar bisa mengakses informasi tentang luar negeri. Atau lebih tepatnya, kapan Amerika akan memulai peperangan.
Kita tentunya tidak mau kan, kalau sampai hal yang sama terjadi di sini. Jadi merupakan tugas kita untuk menguasai media apapun. Jangan sampai justru orang-orang Barat yang mendominasi akses media di negeri ini.
Pertama-tama yang perlu kita benahi ialah mengenai isi media. Sudahkah media kita mencerminkan kepribadian Islam? Atau paling tidak, sesuai dengan kepribadian Pancasila. Jawabnya tentu saja belum. Isi media kita, baik media tulis maupun elektronika, hanya berkutat pada permasalahan pacaran, seks bebas, arogansi, kriminal, dan semua itu teramat jauh dari visi Islam. Padahal, bukankah Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam?
Merujuk pada buku ‘Cinta Kita Beda’ karya Muhammad Nadzif Masykur dan Evi Ni’matuzzakiyah, bahwa… “media Islam saat ini tak tampil sebagai media alternatif di tengah maraknya bacaan yang bikin remaja dan juga orang tua gerah. Ironisnya, justru remaja Islam yang kena getahnya. Bahkan sebenarnya bukan saja kena getahnya tapi telah menjadi pengikut setia ‘sabda-sabda’ yang dihembuskan media yang begituan.”
Ironis memang. Remaja Islam sekarang telah lupa pedomannya yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka terbius oleh banyaknya isu hedonisme yang dibawa oleh bangsa Barat, yang selalu berdalih ‘atas nama kebebasan’.
Media dan Peradaban
Di depan sudah dijelaskan, bahwa media bisa berpengaruh pada peradaban manusia. Kita tentu sudah sangat familiar dengan istilah Israel. Ya, penganut zionisme ini telah merajai dunia. Banyak sekali produk yang berada di bawah komando zionis. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, mobil, handphone, dan lain-lainnya. Dan itu pun tak lepas dari pengaruh media. Mau bukti?
Baca saja bukunya Muhammad Fauzil Adhim dalam buku yang sama, halaman 64. Di situ tertulis bahwa negara Yahudi Raya yang bernama Israel barangkali tidak akan pernah ada seandainya seorang Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis sebuah buku tipis bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneulan (Old New Land), buku ini menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak orang Palestina.
Dengan dalih bahwa Palestina adalah hadiah dari Allah untuk Bani Israel, mereka pun mengusir penduduk Palestina dengan paksa. Dengan terang-terangan mereka menyiksa, menindas, membunuh, bahkan melakukan pembantaian besar-besaran. Penduduk Palestina menderita di wilayahnya sendiri. Bahkan penderitaan itu belum berakhir dan diperkirakan akan tetap berlangsung hingga akhir zaman.
“Wahai Kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” (Q.S. Al Maidah: 21)
Itulah yang tertulis dalam Al Qur’an, kitab suci umat Islam. Berpegang pada kata-kata Theodore Herzl dan dikuatkan dengan dalil dari Al Qur’an tersebut, bangsa Yahudi merebut paksa tanah milik rakyat Palestina. Mereka (Yahudi) mengira, bahwa tanah itu resmi milik mereka. Padahal hal itu sebenarnya keliru. Pemberian Palestina kepada Yahudi telah dibatalkan oleh Allah dalam ayat yang lain, yang mungkin ‘tidak terbaca’ oleh mereka.
Allah berfirman: “Jika demikian, maka negeri itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun. Selama itu mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati memikirkan nasib orang-orang yang fasik itu.” (Q.S. Al Maidah: 26)
Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Dan itu telah dibuktikan oleh Theodore Herzl. Bukunya tidak lebih tebal dari Harry Potter. Bahkan setengahnya saja mungkin tidak ada. Tapi dengan keterampilan dan kepiawaiannya dalam menuangkan kata, saat ini Palestina dibuat menangis karenanya. Peradaban Yahudi yang semula tidak ada, menjadi ada dan berjaya di seluruh dunia.
Tajamnya pena memang melebihi ketajaman pedang. Bila sebuah pedang dapat membunuh satu atau beberapa orang, maka pena mampu membunuh ratusan bahkan jutaan orang sekaligus. Kalau sebuah pedang dapat menerjang beberapa gangguan dalam sekali tebas, maka pena mampu menerobos gangguan dalam berbagai lintas generasi. Atau justru sebaliknya, membuat gangguan lintas generasi.
Karena pena adalah salah satu alat tulis, menggambarkan aspek media informasi, atau jalan strategis mengembangkan kualitas dan kuantitas intelektual (pendidikan), moral, budaya, politik, ekonomi, ideologi, dan agama. Lewat pena, imformasi dan ekspresi kebebasan berpendapat bisa disalurkan, dikembangkan, dan disebarkan sebagai substansi dakwah ke tengah masyarakat lokal, nasional, bahkan global. (Mimbar Humanis hlm. 126)
Sejarah bisa diatur dengan pena. Informasi bisa berubah seenaknya juga karena pena. Pena adalah ular berbisa yang siap memangsa siapa saja. Pena adalah penghancur, tapi juga bisa menjadi pemersatu. Hal itu tergantung pada bagaimana kita mengayunkan pena. Itu juga yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw. Beliau menyebarkan ajaran agama Islam dengan cara menuliskan surat dan dikirim kepada raja-raja pada masa itu. Reaksi yang didapat bermacam-macam. Ada yang mengikutinya, namun tidak sedikit yang menolak bahkan menentangnya.
Atau ketika beberapa waktu lalu, surat kabar Denmark memajang ilustrasi Nabi Muhammad saw yang digambarkan sebagai teroris. Pemerintah Denmark menganggap itu hanyalah ekspresi kebebasan dalam menyampaikan informasi. Padahal umat Islam di seluruh dunia sudah dibuat kebakaran jenggot. Sedangkan jawaban yang diperoleh hanyalah, “atas nama kebebasan”.
Banyak orang salah persepsi hanya karena apa yang tertulis oleh pena media. Seperti halnya masyarakat Barat yang saat ini menjadi pendukung setia Zionis hanya karena media yang sangat marak membicarakan tentang terorisme Palestina. Namun tentu saja, setelah mereka mengetahui kebenaran informasi media tersebut, mereka berbalik mengecam Zionis Israel. Kita dapat melihat semuaitu di buku Tears Of Heaven yang merupakan kisah nyata kesaksian seorang dokter asal Norwegia yang menjadi sukarelawan di camp pengungsian Palestina. Dengan matanya sendiri, ia menyaksikan bagaimana kekejian Israel yang ‘katanya’ membela diri dari serangan teroris Palestina. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Media telah memberitakan hal yang sungguh bertolak belakang.
Dan tanpa kita sadari, ternyata kita sudah membantu Zionis Yahudi mencapai tujuannya. Dengan beberapa barang produksi Zionis yang kita beli, kita sudah membantu pendanaan senjata Yahudi menyiksa bangsa Palestina. Itu pun karena kita terpedaya oleh pengaruh media iklan. Dengan penuh kebanggaan, saat ini Zionis mempersembahkan peradaban baru di bumi. Peradaban yang menghalalkan kita makan darah saudara sendiri. Peradaban yang menghalalkan kita menggerayangi tubuh lain jenis yang bukan mahramnya. Peradaban yang menganggap tabu orang yang mengikuti ajaran agama dengan benar. Benarkah kita sudah menjadi korban? Tidak miriskah kita mengetahui hal itu?
Bukti lain, bisa kita lihat di buku sejarah. Pada awal perjuangan kemerdekaan Indonesia, seandainya radio Belanda tidak memberitakan kekalahan Jepang pada waktu itu, barangkali sampai sekarang Indonesia tidak pernah ada. Kalaupun negara ini ada, mungkin namanya bukan Indonesia, entah apa. Barangkali bernama ‘Negara Persemakmuran Jepang’ atau sejenisnya.
Nah, sudah saatnya kita buat perubahan. Zionis Yahudi yang notabene hanya negara kecil saja bisa menguasai dunia. Apakah kita selamanya hanya akan menunggu bengong saja tanpa berbuat apa-apa? Atau kita akan menunggu sampai peradaban mengubah kita? Ayo, saatnya kita bangun! Peradaban bisa kita ubah.
Dengan media mari kita buktikan.
Jika kata bisa berkuasa, maka perbuatanlah budaknya,
Jika kata memang berbisa, maka setanlah pemandunya,
Jika kata adalah raja, maka bibir kita adalah mahkotanya,
Dan jika kita bisa mengelola kata, itulah kesuksesan terbesar yang akan kita dapatkan…
***
DIarsipkan di bawah: Dakwah, peradaban | Ditandai: media, peradaban