Terasing. Sendiri.
Begitulah yang kau rasakan seandainya kau hidup di lingkungan keluarga sepertiku. Aku hidup di antara orang-orang Nasrani. Bahkan salah seorang kakakku, tak pernah mau mengakui adanya Tuhan. Ia atheis!
Awalnya aku ragu dengan keputusanku masuk Islam. Dan memang, keluargaku menentang habis-habisan. Tapi teman-teman kuliahku selalu menguatkanku untuk tetap istiqomah dalam agama Allah ini.
Hari ini awal bulan Ramadhan. Aku sangat sibuk menyiapkan kegiatan Ramadhan di kampus. Oleh karenanya aku sering pulang larut malam. Mami sering uring-uringan. Beliau mikir yang nggak-nggak tentang aku. Tapi alhamdulillah, sampai hari ini aku masih bisa sabar.
“Dari mana kamu?!” tanya Mami sore ini. Aku baru aja pulang pengajian di masjid kampus. Kebetulan emang hari ini ustadz datang agak terlambat, jadi terpaksa aku pulang lebih larut dari biasanya.
“Dari kampus Mi.”
“Bo’ong, Mi!” kakak perempuanku, Sita, ikut nimbrung. “Dia pasti abis dari pacaran, ini kan Malam Minggu,” lanjutnya.
“Astaghfirullahal ‘adzim. Kak, aku jujur. Aku beneran dari kampus.”
“Malam ini kamu nggak boleh makan malam! Itu hukuman buatmu karena pulang telat!”
“I-iya, Mi.”
Aku kadang mikir ini nggak adil. Mana janji Allah bahwa Dia akan melindungi orang-orang yang beriman pada-Nya? Kenapa justru Mami sendiri yang menentangku? Kenapaaaa???
Aku langsung masuk kamar tanpa berkata-kata lagi. Ini bukan yang pertama aku harus puasa sampai pagi. Lalu paginya, entah apa lagi kesalahanku hingga Mami menghukumku tidak boleh sarapan. Selalu begitu. Hampir setiap hari!
Dua bulan lalu, aku masih beragama Nasrani. Tanpa jilbab. Membuka aurat di sepanjang jalan. Celana pendek. Tank-top. Dan aku dikelilingi banyak cowok cakep.
Tapi sekarang…
Aku berdiri di depan cermin. Melihat diriku yang berjilbab panjang. Tanpa make-up. Tanpa lipstik, bedak, eye-shadow, dan sejenisnya. Cowok-cowok yang dulu selalu mengejarku pun kini udah kabur semua. Mungkin di mata mereka aku ini hantu berjilbab atau sejenisnya.
Kadang aku merasa nggak kuat menjalaninya. Teman-temanku nggak ada yang mau bermain denganku. Padahal aku masih seperti dulu. Seorang Sisca yang ceria dan tidak pernah membeda-bedakan teman. Mungkin satu aja yang beda. Agama. Apa itu salah??
Untuk menghibur diri dan perutku, aku mulai membuka-buka diary-ku. Diary bersampul pink yang selalu aku tulisi setiap hari. Inilah bukti kisahku yang indah masa dulu. Sekarang, mungkin hanya kenangan…
16 Juni 2007, di Koridor Kampus
Diary, hari ini aku seneeeeeeng banget! Dion akhirnya nembak aku. Dia bilang, kalo dia udah lama naksir aku. Katanya aku cantik, manis, dan seksi.
Pagi tadi dia jemput aku ke kampus. Itu yang dia bilang. Tapi sebelum sampai kampus, dia belokkan motornya. Dia bilang pingin ngungkapin sesuatu yang penting gitu.
Dan dia menghentikan motornya di dekat telaga. Dion menggandeng tanganku mesra, menatap mataku, dan berbisik di telingaku, “I love you, Sisca.”
Oh diary, gimana aku nggak seneng? Aku kan juga udah lama naruh perhatian ke Dion! Dia cakep, jago basket, jago main gitar. Dan mulai hari ini dia resmi jadi milikku!
Setelah itu, dia mengajakku keliling telaga. Dia membelai rambutku. Dia memelukku. Dia menciumku. Bahagianya…
Dion, I love you, so much…!
Dion…
Aku udah kehilangan dia. Setelah tahu aku pindah agama, dia mencampakkanku. Apalagi waktu dia melihatku berjilbab, dia melihatku jijik. Seakan-akan aku ini sampah atau sejenisnya.
Aku mulai merindukan Dion. Aku ingin dipeluk, dicium, dan dibelai mesra olehnya. Apa dia juga merasakan hal yang sama?
Lama aku berpikir. Aku berdiri lagi. Menatap wajahku di cermin. Kusam. Tanpa bedak sedikitpun. Kubuka jilbab yang kupakai. Rambut tergerai sebahu. Hitam berkilau. Dulu teman-teman kampus iri melihatnya. Tentu aja, semua itu sebelum aku berjilbab.
Pandanganku kini tertuju ke pinggulku. Yang sekarang tak berbentuk. Tertutup baju model Arab Kuno. Pantas aja kalo cowok-cowok tak lagi melirikku. Aku nggak seksi. Sedikitpun!!!
Aku berjalan ke lemari pakaian. Mencari sisa-sisa pakaianku dulu. Tank-top dan celana pendek. Kucoba mengenakannya lagi. Paling tidak, aku ingin melihat diriku sendiri seksi seperti dulu. Walaupun mungkin hanya di depan cermin. Tanpa ada orang yang tahu.
Aku rapikan rambutku. Kupakai bedak, eye-shadow, dan lipstik. Cantik.
Sekali lagi aku memandang tubuh dan wajahku. Sempurna sekali. Belahan dadaku yang agak terbuka semakin menambah kesan seksi dalam diriku. Aku tersenyum. Memandang diriku di cermin.
“Mungkin nggak ada salahnya aku keluar malam ini sebentar. Cuma kali ini. Dan besok, aku kan bisa kembali bertaubat dan mengenakan gamisku lagi.”
Aku pun mengendap-endap keluar kamar. Sepi. Wajar aja, ini kan udah jam 11 malam. Niatku hanya ingin keluar sebentar mencari makan. Aku laper. Pulang dari kampus tadi jam 7. Dan sampai sekarang aku belum makan sedikitpun.
Udara malam terasa dingin. Tapi aku memaksakan diri untuk tetap keluar mencari makan. Aku merasa begitu bebas dengan pakaian seperti ini. Tanpa beban.
Sebuah motor berhenti di dekatku. “Dion?”
Kau tahu? Dion tampak begitu tampan. Apalagi waktu dia menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Mau ke mana, Sis? Kok tumben pake pakaian kayak gitu?” Lalu Dion mendekatkan wajahnya di telingaku dan berbisik, “Kau tampak seksi.”
Aku tersenyum. Setelah hampir dua bulan aku mengenakan gamis, ternyata aku masih tetap seksi kayak dulu. Dan itupun diucapkan oleh seorang Dion.
“Aku laper, mau cari makan,” jawabku.
“Kalo gitu ayo kuanter.”
“Nggak ngrepotin?”
“Tentu aja nggak! Palagi untuk cewek secantik kamu.”
Aku langsung naik ke motor Dion. Harum tubuh Dion seperti membiusku. Sepanjang jalan aku memeluknya. Mungkin inilah rasa rinduku yang udah nggak tertahankan.
“Sebelum makan, kamu mau nggak, bernostalgia di tempat kenangan kita, Sis?”
“Telaga maksudmu?”
“He’eh.”
“Oke.”
Di telaga, udara malam terasa begitu menusuk. Tapi hatiku sangat bahagia. Biar bintang yang jadi saksi bahwa aku masih sangat sayang sama Dion.
Kami duduk di tepi telaga. Memandang pantulan sinar bulan dan bintang di air telaga. Indah sekali.
“Sisca…” Dion meraih tanganku.
Tanpa berkata-kata lagi, dia memelukku. “Sis, aku kangen sama kamu. Kangen banget. Kamu mau kan jadi cewekku lagi? Aku sangat kehilanganmu, Sis!”
Tubuhku gemetar. Pelukan Dion begitu kuat. Hingga aku tak kuasa melepaskannya. Sama seperti aku nggak kuasa menjawab ‘tidak’ padanya.
Kusandarkan kepalaku di bahu Dion. Cowok itupun membelai punggungku mesra. Sambil berbisik kata cinta di telingaku. Rasanya seperti mimpi. Apa ini namanya cinta?
Waktu Dion menciumku, aku nggak sanggup menolak. Dia ciumi pipi, bibir, dan leherku. Dan di telaga ini, akhirnya kuserahkan segalanya buat dia. Aku yakin keputusanku benar.
Tapi waktu kami tengah asyik bercumbu, sesuatu jatuh dari saku Dion. Sebuah surat. Surat keterangan pengidap HIV/AIDS. Ya Allah….
***
Jam 1 Dini Hari, Di Kamar…
Aku menangis. Merenung. Entah karena apa. Apakah aku menangis karena menyesal udah berhubungan intim dengan seorang pengidap HIV/AIDS? Atau aku menyesal karena udah mencintainya?
Dada ini terasa begitu sesak. Kucoba membaca-baca buku yang kupunya. Dan inilah yang kutemukan…
……..
Demikian dengan para gadis. Gadis yang tidak menutup aurat cantik tetapi ia seperti bunga. Yang cepat layu dan mudah hilang baunya. Manakala gadis yang menutup aurat dengan sempurna adalah mutiara yang cantik. Pasti terdapat perbedaan antara keduanya.
……..
Ya Allah, aku baru dua bulan menjadi muallaf. Dan Engkau mengujiku dengan godaan dunia. Dan parahnya, aku gagal, Ya Allah…
Masih adakah tempat kembali untukku?
**TAMAT
DIarsipkan di bawah: Cerpen, remaja | Ditandai: Cerpen Islam, Murtad, Taubat
Aslkm. Afwan. ane boleh ngasi tulisan dikit ke antum ya….ya siap tahu bisa jadi inspirasi buat antum. gak apa – apa ya….
“ Sesungguhnya Jilbab itu bukan hanya untuk menutup aurat, namun esensi sebenarnya jauh lebih dari itu semua. Islam sangat ingin memuliakan kaum hawa. Sehingga wanita diwajibkan untuk mengenakan jilbab yang sampai menutupi dada. Mengapa demikian.? Dalam islam derajat kaum Wanita berada dibawah kaum Adam (laki – laki). Bahkan dalam pembagian warisanpun, hak wanita seperdua dari hak kaum laki – laki. Bukannya islam tidak adil, tapi justru disinilah letak kepedulian islam terhadap kaum wanita. Al-Qur’an mengatakan bahwa Wanita baik untuk laki – laki yang baik. Dan Kriteria Wanita Baik sudah tersebut dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah berjilbab dan menutup aurat. Ukhti Syafa, afwan jiddan ya, izinkan ane mengambil sebuah contoh. Bila ada perbuatan zina yang terjadi, pihak mana yang dirugikan?pihak wanita bukan..?? Atau bila ada sebuah kasus (maaf) pemerkosaan, apakah pihak laki – laki dirugikan? Bukankah pihak wanita yang paling menderita? Atas dasar itulah Wanita diwajibkan untuk menutup Auratnya agar kaum laki- laki yang melihatnya tidak menimbulkan syahwat, justru mengingatkan kepada ALLAH SWT. Ukhti Syafa, Apakah wanita berjilbab tidak bisa berekspresi dan bergaya seperti wanita lainnya? Tidak ada larangan dalam Islam untuk wanita berekspresi dan berkarya, asal sesuai syariat dan ada tuntunannya. Siti Khadijah saja adalah saudagar yang kaya raya. Bila wanita berjilbab, bukankah para pemuda tidak berani mendekati dan bagaiamana dengan jodoh..?? Ukhti Syafa.. semoga ALLAH SWT memberi Hidayah kepada Antum. Jodoh, takdir dan ajal sudah di tentukan, jauh sebelum kita terlahir di dunia ini. Jadi jangan takut dan percaya saja dengan ketetapan dari ALLAH SWT. Itulah makanya dikatakan dalam Al- Qur’an ‘ Wanita baik untuk laki – laki yang baik “. Bila kita telah berusaha untuk menjaga aurat kita dan menjaga prilaku kita, sudah barang tentu jodoh kita adalah orang yang menjaga aurat dan prilakunya juga. Karena bukankah ALLAH SWT itu maha adil ?”
kalo, yang ini , ane coba renungkan hakekat wanita dan jadilah tulisan ini…
“ Setiap Wanita pada dasarnya adalah mutiara. Semuanya indah dan berharga. Permasalahannya adalah, tidak semua mutiara ini mampu untuk berkilau dengan sempurna. Bukan karena rusak atau cacat, tapi karena masih terdapat lumpur di sebagian permukaan mutiara itu. Itulah mengapa, mutiara ini butuh orang yang mampu membersihkan lumpur itu dengan perlahan tanpa merusak kemilau mutiara tadi. Tak sembarang orang pula yang pandai dalam membersihkan lumpur di mutiara, karena bila “kain” yang dipakai untuk membersihkan lumpur tadi adalah “kain kotor”, maka walaupun niatnya baik, tetapa saja akan membuat mutiara semakin hilang kemilaunya. Seberapa banyakkah orang yang pandai membersihkan lumpur di mutiara ? apakah saya termasuk kedalam golongan ini? Ya rabb…semoga daku termasuk ke dalam orang yang mampu membersihkan dan manjaga kemilau indah mutiara ciptaanMu”