Kenapa Ujian Datang Nggak Ada Habisnya?
Ada seorang bijak berkata, ujian adalah proses kita menuju ke surga yang indah. Salah satu kata-kata beliau yang aku ingat selalu, ketika aku pernah bertanya kenapa ujian selalu menerpa adalah….”karena kita umat akhir zaman yang sedang berproses menuju sebuah akhir yang indah…”
Sungguh bijak perkataan itu. Membuat kita senantiasa ber-khusnudzan kepada Allah. Karena “Rahmat-Ku melebihi murka-Ku”, demikian kata Allah dalam Al Qur’an.
“Cobaan demi cobaan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada diri dan anaknya sampai ia bertemu Allah pada hari kiamat tanpa membawa kesalahan.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)
Ujian memang selalu datang menerpa. Setiap ujian pasti ada hikmahnya. Semua bentuk pengorbanan dan luka di jiwa akan dibayar oleh Allah tanpa ada yang terlewatkan. Kebaikan yang sekecil apapun akan dibalas. Begitu pula keburukan yang sekecil apapun.
Sebesar zarahpun diperhitungkan
Kebaikan yang t’lah kita lakukan
Sebesar zarahpun diperhitungkan
Keburukan yang t’lah kita lakukan
(Saat Ajal Menjelang – Snada)
Setiap peluh dan darah yang menetes di jalan Allah, pasti akan diganjar oleh Allah dengan yang serupa, bahkan lebih baik. Dan apalah yang lebih kita inginkan daripada cinta dan ridho dari Allah….
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan
(Bingkai Kehidupan – Shoutul Harokah)
Saudariku, udah deh nggak perlu mikirin kenapa ujian nggak ada hentinya. Kita hidup sampai detik ini aja, tu berarti Allah masih menghendaki kita untuk menyelesaikan ujian itu. Allah masih ngasih kita kesempatan untuk berusaha. Apa itu masih kurang???
Sekarang kita merenung bareng-bareng. Besar mana antara kebahagiaan yang Allah berikan jika dibandingkan dengan kesengsaraan yang Allah timpakan kepada kita? Tentu aja lebih besar kebahagiaan atau nikmatnya kan?
Saudariku, setiap ujian pasti ada hikmahnya. Itu udah terbukti. Tiap kejadian, apapun itu, pasti Allah menghendaki sesuatu di balik itu. Tapi kalo kalian masih ragu, ada baiknya aku cerita pengalaman seorang akhwat tentang hikmah. Cerita pribadi sih sebenarnya. Hehehehe….!!
Kisah ini berawal ketika aku lulus SMA tahun lalu. Aku udah sangat berharap dan yakin bahwa aku akan ngelanjutin kuliah di Jakarta (nama kampusnya nggak perlu aku sebutkan ya…?). Aku bahkan udah memikirkan dan merencanakan besok kalo udah nyampe di Jakarta mau ngapain. Mau kemana aja.
Tapi ternyata semua udah Allah yang ngatur. Manusia cuma bisa berusaha, berdoa, dan tawakal. Apapun hasilnya itu kehendak Allah. Hari itu pengumuman apakah aku lulus tes masuk atau tidak. Dan rencana yang udah aku susun dari kemarin-kemarin batal semua. Aku nggak di terima. Aku nggak jadi ke Jakarta. Waktu itu rasanya dunia serasa kiamat. Langit seolah runtuh. Bumi terguncang melebihi gempa bumi sekalipun.
Kadang aku merasa diri ini terlalu hina
Untuk dapat menggapai kemuliaan
kadang aku merasa bukan apa-apa
Kadang aku merasa begitu bodoh dan tak berarti
Untuk dapat mengerti semua
Kadang aku begitu lelah
Karena semua yang kulakukan hanyalah sia-sia
Mengapalah segala tidak seperti cita
Mengapalah fakta tak seperti asa
Mengapalah diri terlalu dina
Apa artinya aku berikhtiar….
(Ditulis sehari setelah pengumuman tes Perguruan Tinggi, 20.37)
Temen-temen tau apa yang waktu itu aku lakukan? Bukannya semakin merendah, aku justru semakin sombong kepada Allah. Aku semakin lalai akan kewajiban. Aku pun banyak melakukan maksiat sebagai pelampiasan.
Tapi ternyata Allah begitu menyayangiku. Dia ingin aku mendekat pada-Nya. Ujian kesusahan itu mampu aku hadapi. (Hehehe…sukses nih ceritanya). Waktu itu aku bermimpi aneh banget. Dalam mimpi aku melihat diriku sendiri dikafani. Hiiiihhh!!!
Pasti temen-temen bisa bayangin kan, gimana perasaanku waktu itu? Udah susah karena nggak diterima perguruan tinggi, masih ditambah dengan mimpi yang menakutkan kayak gitu. Aku aja waktu itu hampir gila mikirin itu. Tapi alhamdulillah sih, Allah masih ngasih aku kesempatan hingga aku nggak gila dibuatnya. Kalo waktu itu aku gila, barangkali nggak sempet nulis soal ketegaran ini. Bener nggak???
Oya, balik lagi ke persoalan ya!
Setelah aku mimpi nakutin kayak gitu, aku pun berpikir. Apa aja yang selama ini aku lakuin hingga Allah ngasih aku cobaan ini. Aku baru nyadar, ternyata terlalu banyak maksiat yang udah aku buat. Banyak banget pelanggaran terhadap larangan-Nya yang udah aku lakuin.
Dan mungkin ini cuma salah satunya. Selama SMA aku paling anti sama jilbab. Aku bahkan suka mengolok-olok wanita muslimah yang berjilbab gede-gede. Kesannya tuh mereka kolot dan agak kuno gimanaaa gitu. Aku paling nggak suka ikut kajian keputrian di sekolah (padahal itu wajib!). Soalnya aku nganggep kalo kayak gitu tuh nggak ada gunanya gitu looh!!
Dan mungkin itu pulalah yang membuat Allah murka. Mana ada sih yang mau ngasih kebaikan ke kita kalo kita sendiri nggak mau jaga perintah dan menjauhi larangan dengan sepenuh hati?
“Hendaknya mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al Ahzaab: 59)
Atau dalam firman-Nya yang lain yang lebih indah:
“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya.” (Q.S. An Nuur: 31)
Semenjak itu aku mengenakan jilbab. Yach, meski sebenarnya itu belum bisa dikatakan jilbab yang ‘bener’ sih. Waktu pertama kali makai jilbab, aku baru makai jilbab kecil. Dan kadang-kadang masih transparan gitu.
Nah, ngomongin soal hikmah lagi ya!
Setelah beberapa hari, barulah aku merasakan hikmah dari Allah begitu besar. Dan semakin hari semakin banyak hikmah yang diberikan. Hikmah pertama yang aku rasakan adalah, bahwa aku memenangkan dua perlombaan menulis sekaligus. Juara satu dan juara dua. Terus aku diangkat jadi reporter tetap sebuah majalah remaja hingga sekarang. Terus aku ditawarin ikut siaran di sebuah radio komunitas dakwah, yang sekarang membuatku kenal dengan banyak saudara muslim. Saudara muslim yang selalu mengingatkanku bila aku akan terjerumus kemaksiatan. Saudara seiman yang selalu menasehatiku agar aku bisa setegar karang. Dan itu masih berlanjut hingga sekarang. Insyaallah sampai akhir zaman kelak. Amin.
Dan mungkin itu nggak akan terjadi kalau aku diterima kuliah di Jakarta. Barangkali pula, Allah ingin menjaga akhlakku. Di Jogja aku diawasi orang tua. Di Jogja aku kenal dengan banyak orang alim. Entah apa yang terjadi kalau aku kuliah di Jakarta. Sendirian.
Ya Allah, inilah hamba-Mu. Yang kotor, hina, dan nista. Mungkin sekarang hamba tak pantas lagi memohon kepada-Mu. Bahkan mungkin Engkaupun sudah tak sudi memandang hamba-Mu di sini.
Ketika hamba dipenuhi kesenangan duniawi, hamba adalah aktivis masjid. Mengabdikan diri untuk menegakkan agama-Mu. Memuliakan nama-Mu di sana. Mengharap ridho-Mu.
Tapi apa yang hamba lakukan ketika hamba gagal?
Hamba mengecam-Mu. Hamba mengingkari kemuliaan dan keadilan-Mu. Padahal mungkin memang itulah balasan perbuatan yang hamba lakukan dulu. Hamba gagal. Dalam segala hal. Bahkan dalam ujian keimanan dari-Mu.
Bagaimana hamba bisa mengharap ridho-Mu, sedangkan hamba tak pernah ingat kepada-Mu? Bagaimana Engkau akan memuliakan hamba, sedangkan hamba tak pernah tulus memuliakan-Mu? Dan bagaimana hamba bisa mengharap nikmat-Mu, sedangkan hamba justru mempergunakannya untuk kemaksiatan?
Ya Allah, inilah hamba. Bukan Khadijah, Aisyah, atau Fatimah. Hamba bukan kekasih-Mu. Hamba bukan mukminin-Mu. Hamba bukan muhsinin-Mu. Air mata ini mungkin hanya sekadar ungkapan penyesalan hamba. Hamba tak mungkin bisa menghapus semua dosa hamba hanya dengan tangisan. Meski hamba menangis darah sekalipun, hamba tahu itu tak akan mungkin menghapus noda dalam diri dan jiwa hamba. Hanya Engkau. Hanya Engkau yang mampu menghapusnya Ya Allah. Engkau Maha Pengampun. Engkau Maha Kasih. Kepada setiap hamba-Mu. Hanya itulah yang membuat hamba tetap duduk di sini, di hadapan-Mu dengan penuh kehinaan. Tangisan hamba takkan mungkin bisa memadamkan api neraka-Mu. Tapi jadikanlah air mata hamba sebagai saksi bahwa hamba pernah tulus menghiba pada-Mu ya Allah.
Ya Tuhanku, mungkin baru sekarang hamba berlutut pasrah. Dan tak mungkin hamba langsung memohon sesuatu. Mungkin hanya ridho-Mu yang hamba harapkan saat ini…
Ya Allah, jika ini memang jalan terbaik yang Engkau pilihkan untuk hamba, maka kuatkan hamba ya Allah. Sabarkan hati dan jiwa hamba untuk tetap melangkah di jalan yang telah Engkau pilihkan ini.
Ya Allah Yang Maha Penyayang, karena kasih sayang-Mu lah hamba masih bisa berdiri hingga saat ini. Karena cinta-Mu lah hamba bisa kembali dalam jalan lurus-Mu.
Dan apalah yang hamba harap lagi? Engkau pasti memberikan yang terbaik untuk hamba-Mu. Mungkin Engkau menyimpan rahasia yang tidak hamba ketahui. Barangkali di universitas ini nanti, hamba akan mendapatkan pengganti yang lebih baik sebagai obat luka hati hamba.
Ya Allah, hamba pasrah di hadapan-Mu.
Ya Rabb, kini hamba paham betapa besar kasih sayang-Mu pada semua hamba-hamba-Mu. Kini hamba mengerti rahasia apakah yang Engkau sembunyikan selama ini.
Dalam ridho-Mu, hamba bisa bertahan dengan semua ejekan dan cemoohan. Dalam maghfiroh-Mu, hamba kembali mengetuk pintu-Mu. Hidayah-Mu kini telah bersinar. Bahkan ketika hamba melupakan-Mu. Engkau tak pernah meninggalkan hamba.
Ya Allah, kini hamba tahu. Engkau Maha Pengasih Penyayang. Engkau kasih kepada hamba-hamba-Mu, bahkan di saat mereka melupakan-Mu. Kau berikan kepada hamba-Mu nikmat, bahkan di saat mereka mengkufurinya. Engkau anugerahkan hidayah iman kepada hamba-Mu, bahkan di saat mereka menjauhkan diri dari-Mu.
Ya Allah, Engkau Yang Maha Tahu apa yang hamba-hamba-Mu butuhkan. Engkau selalu berikan yang terbaik untuk hamba-Mu.
Hamba tahu, sekelumit doa hamba bukan apa-apa. Sepotong ayat-ayat yang hamba baca bukan apa-apa. Dan selautan air mata hamba juga bukan apa-apa. Tanpa kasih dan sayang-Mu…
Ya Allah ampunilah hamba…
(Disadur dari buku harian penulis, tertanggal 12 September 2007)
Wahai wanita muslimah,
Kita nggak perlu minder kalaupun nggak diterima di universitas yang ‘wah!’. Karena bisa jadi justru itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan untuk kita. Sekali lagi, semua ada hikmahnya.
Dan bila terjadi sesuatu terhadap manusia
Jangan berpikir untuk berputus asa
Kembalikan semua pada Yang Esa saja
(Optimis Sajalah – Tashiru)
So, buat kamu-kamu yang ngaku mujahidah, jangan takut deh oleh ujian. Tiap hamba pasti diuji. Dan yang membedakan kita dengan hamba yang lain adalah: WE ARE THE WINNER!!!
DIarsipkan di bawah: Dakwah, Jihad | Ditandai: Add new tag, Dakwah, Jihad, Putri